Sejarah Kamus Indonesia–Inggris dan Akar Linguistiknya


Kamus Echols–Shadily sebagai Tonggak Modern

Sejarah penerbitan kamus Indonesia–Inggris memang menarik karena berkaitan dengan perkembangan bahasa Indonesia sebagai bahasa modern. Tokoh yang paling sering disebut sebagai penyusun kamus Indonesia–Inggris pertama adalah John M. Echols dan Hassan Shadily, dengan karya monumental mereka berjudul Kamus Inggris–Indonesia yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1952 oleh Penerbit PT Gramedia, Jakarta. Kamus ini kemudian menjadi rujukan utama bagi pelajar, akademisi, dan masyarakat umum, serta terus dicetak ulang dan diperbarui hingga beberapa dekade berikutnya.

Namun, sebelum karya Echols–Shadily, sudah ada upaya awal berupa kamus Inggris–Melayu yang diterbitkan di abad ke-17 dan ke-18, misalnya karya Thomas Bowrey berjudul A Dictionary English and Malayo yang dicetak di London pada tahun 1701. Kamus ini menggunakan bahasa Melayu klasik sebagai penghubung, yang kemudian menjadi dasar bagi perkembangan kamus Indonesia–Inggris modern.

Dengan demikian, jika berbicara tentang kamus Indonesia–Inggris modern, maka nama Echols dan Shadily di Jakarta adalah yang pertama kali diakui secara resmi. Tetapi jika melihat akar sejarah lebih jauh, usaha awal sudah dilakukan oleh penulis Eropa seperti Bowrey di London, yang memperkenalkan hubungan leksikal antara bahasa Inggris dan bahasa Melayu.

Kamus Echols–Shadily sebagai Tonggak Modern

Kamus English–Malay karya Thomas Bowrey adalah salah satu kamus paling awal yang menghubungkan bahasa Inggris dengan bahasa Melayu. Karya ini berjudul lengkap A Dictionary English and Malayo, Malayo and English dan diterbitkan di London pada tahun 1701. Bowrey adalah seorang pelaut dan pedagang Inggris yang pernah berlayar ke Asia Tenggara, sehingga ia memiliki pengalaman langsung dengan bahasa Melayu sebagai lingua franca perdagangan di kawasan tersebut.

Kamus ini disusun untuk membantu orang Inggris berkomunikasi dengan masyarakat lokal di Asia Tenggara, terutama di pelabuhan-pelabuhan penting seperti Malaka dan Batavia. Bahasa Melayu pada masa itu berfungsi sebagai bahasa perdagangan internasional di Nusantara, sehingga kamus Bowrey menjadi alat penting bagi para pedagang dan administrator kolonial.

Isi kamus Bowrey mencakup kosakata dasar yang digunakan dalam percakapan sehari-hari maupun perdagangan. Walaupun masih sederhana dan terbatas, kamus ini menandai awal usaha sistematis untuk menjembatani bahasa Inggris dengan bahasa Melayu, yang kemudian menjadi dasar bagi perkembangan kamus Indonesia–Inggris modern di abad ke-20.

Kamus Bowrey sebagai Dokumen Sejarah

Dengan demikian, kamus Bowrey bukan hanya karya linguistik, tetapi juga dokumen sejarah yang menunjukkan bagaimana bahasa Melayu sudah berperan sebagai bahasa internasional jauh sebelum bahasa Indonesia resmi terbentuk.

Kamus English–Malay karya Thomas Bowrey yang terbit di London tahun 1701 memiliki struktur yang cukup sederhana namun penting sebagai pionir. Bowrey menyusun kamus ini dalam dua arah: dari bahasa Inggris ke Melayu dan dari Melayu ke Inggris. Tujuannya jelas, yaitu memudahkan para pedagang, pelaut, dan administrator kolonial Inggris berkomunikasi dengan masyarakat Asia Tenggara yang menggunakan bahasa Melayu sebagai lingua franca.

Isi dan Struktur Kamus Bowrey

Isi kamus ini berupa daftar kosakata dasar yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, perdagangan, dan interaksi sosial. Bowrey menuliskan kata-kata Inggris dengan padanan Melayu, lalu sebaliknya kata-kata Melayu dengan terjemahan Inggris. Struktur penyusunan masih sangat praktis, tidak disertai penjelasan gramatikal panjang, melainkan fokus pada fungsi komunikasi langsung. Kosakata yang dipilih mencerminkan kebutuhan praktis orang Eropa di pelabuhan Nusantara: istilah tentang makanan, barang dagangan, angka, sapaan, serta istilah maritim.

Kamus Bowrey juga memperlihatkan bagaimana bahasa Melayu pada masa itu sudah berfungsi sebagai bahasa internasional. Dengan menempatkan bahasa Melayu sejajar dengan bahasa Inggris dalam bentuk kamus, Bowrey secara tidak langsung mengakui peran penting bahasa ini dalam perdagangan global. Walaupun terbatas dan tidak selengkap kamus modern, struktur dua arah yang ia gunakan menjadi model awal bagi kamus bilingual yang kelak berkembang lebih sistematis.

Peran Kamus Bowrey dalam Linguistik Kolonial

Peran kamus English–Malay karya Thomas Bowrey dalam sejarah linguistik kolonial sangat signifikan karena menjadi salah satu bukti awal bagaimana bahasa Melayu diposisikan sebagai bahasa perantara dalam hubungan internasional. Kamus ini, yang dicetak di London pada tahun 1701, lahir dari kebutuhan praktis para pedagang dan pelaut Inggris untuk berkomunikasi dengan masyarakat Asia Tenggara. Dengan menyusun kosakata dua arah — Inggris ke Melayu dan Melayu ke Inggris — Bowrey secara tidak langsung menegaskan status bahasa Melayu sebagai lingua franca perdagangan di kawasan Nusantara.

Dalam konteks kolonial, kamus Bowrey berfungsi sebagai alat kekuasaan. Bahasa bukan hanya sarana komunikasi, tetapi juga instrumen dominasi. Dengan memiliki kamus, pihak kolonial dapat lebih mudah mengatur perdagangan, administrasi, dan interaksi sosial. Kamus ini menjadi bagian dari strategi kolonial untuk memahami dan menguasai masyarakat lokal melalui bahasa. Walaupun masih sederhana, ia membuka jalan bagi kamus-kamus bilingual lain yang lebih sistematis di kemudian hari, termasuk kamus Inggris–Melayu yang diterbitkan oleh misionaris dan administrator kolonial pada abad ke-18 dan ke-19.

Selain itu, kamus Bowrey memperlihatkan bagaimana bahasa Melayu mulai terdokumentasi secara formal oleh orang Eropa. Hal ini menandai pergeseran dari tradisi lisan ke tradisi tertulis yang dikodifikasi, sehingga bahasa Melayu semakin dikenal di dunia internasional. Dengan demikian, peran kamus Bowrey bukan hanya linguistik, tetapi juga politis dan kultural: ia menjadi simbol awal bagaimana bahasa lokal dijadikan jembatan kolonialisme sekaligus pintu masuk bagi interaksi global.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar